Pada Beberapa waktu tulisan saya yang dahulu , saya mengangkat tentang Menteri Pertanian periode yg lalu, Anton Apriantono,
bagaimana kesederhanaannya begitu mempesona, tiap pergi perjalanan dinas, selalu memilih duduk di kursi ekonomi pesawat.
nginap dirumah2 petani.
tapi dibalik itu prestasinya begitu luar biasa, salah satunya Indonesia berhasil meraih swasembada Beras setelah puluhan tahun predikat itu lepas.

Nah Sobat Spirit, berikut saya ingin mengangkat kisah seorang Jokowi, yg beberapa waktu mendapat penghargaan sebagai tokoh inspiratif dari Republika. Kisah beliau saya temukan di blog seorang teman, pak IsaAlamsyah, mungkin akan saya share dg sedikit perubahan

Berikut kisah selengkapnya

Leadership tanpa kekerasan dan excuse gaya Jokowi (Walikota Solo), Tokoh Perubahan 2010 Republika

Baru beberapa saat setelah Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai walikota Solo, kepala Satpol PP datang kepadanya untuk meminta dana untuk membeli 600 pentungan dan 600
tameng. Maklum saat itu pedagang kali lima merupakan salah satu sumber kesemrawutan di kota Solo.

Joko tersentak, dan berkata;” Saya tanya, mau menggebuki atau mengayomi rakyat?”
Sejak saat itu Joko memerintahkan seluruh tameng dan pentungan dikumpulkan dan dimasukkan dalam gudang dan dikunci.
Untuk mempertegas citra pemerintahan tanpa kekerasan, Joko juga mengganti sosok kepala satpol PP yang identik dengan pria besar berwajah garang dengan seorang wanita.

Lalu apakah ia berhasil menertibkan pedagang kaki lima tanpa kekerasan?
Tidak hanya sukses ia kini bahkan menjadi tokoh inspirasi.
Republika baru saja menobatkannya sebagai salah satu tokoh perubahan 2010.
Sebelumnya, pada tahun 2008 ia terpilih sebagai tokoh pilihan 2008 versi majalah Tempo.

Menertibkan kesemrawutan tanpa kekerasan memang bukan perkara mudah.
Konon, untuk memindahkan pedagang kaki lima Banjarsari saja, Jokowi mengajak para pedagang untuk makan siang bersama lebih dari 50 kali. Ia baru mengungkapkan rencana pemindahan PKL tersebut setelah makan siang ke-54.

Pemindahan pedagang kaki lima ke lokasi baru pun dilakukan dengan tanggung jawab.
Ia mengadakan pawai meriah khusus untuk prosesi pemindahan pedagang tersebut.
Pawai ini membuat lokasi baru tersebut diserbu masyarakat.

Jokowi juga memegang prinsip No Excuse! dalam membangun kota Solo.
Kota Solo bisa dikatakan sebagai kota dengan sumberdaya terbatas.
Wilayahnya sempit dan sulit untuk dikembangkan, kalau saja ia mau excuse.
Industri berkembang di sekitar Solo bukan di wilayahnya, perumahan baru dibangun di luar kota Solo, bahkan Airport berada di luar kota Solo.

Tapi Jokowi juga sadar, masih ada potensi yang bisa dikembangkan.
Orang dengan prinsip No Excuse akan fokus pada yang ada bukan apa yang tidak ada.

Ia membangun sumber daya manusia (human resourses), dimulai dari aparat, bahkan dimulai dari dirinya sendiri.
Sebagai pemimpin ia menunjukkan pola hidup sederhana. Mobil dinasnya adalah mobil bekas pejabat sebelumnya; Hyundai Trajet dan Toyota Camry yang berusia lebih dari 10 tahun. Semasa dinas, Camry-nya sudah mogok 4 kali. Supirnya sering jadi bahan cemooh supir dari walikota atau bupati wilayah lain.
Bagi Joko, kesederhanaan membuatnya bisa fokus dalam bekerja untuk rakyat, tidak berpikir memperkaya diri sendiri.

Untuk membangun SDM aparat, ia mengadakan pelatihan rutin untuk pegawainya. Karena pelayan profesional aparat akan mempermudah pengembangan kota. KTP, yang dulu dibutuhkan waktu berminggu untuk membuatnya, kini bisa dibuat hanya dalam waktu 1 jam dengan biaya cuma Rp 5.000.

Untuk membangun SDM rakyat, Joko memberi dukungan penuh pada pengusaha lokal.
Ia juga membuka kran investasi yang siap menggandeng pengusaha lokal atau memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sejak awal walikota yang berlatar belakang pengusaha furnitur ini, sudah menempatkan pemihakannya kepada rakyat.
Dalam 5 tahun pemerintahannya, ia mendirikan 15 pasar tradisional, padahal sebelumnya tidak ada pasar tradisional baru selama 30 tahun.
Ia memilih untuk membuat satu pasar tradisional milik puluhan warga daripada puluhan hipermart milik satu pengusaha.
“Kami ingin bukan hipermart yang banyak di Solo, tapi pasar tradisional dan pedagang kecil,” ujarnya.

Potensi lain yang dilirik adalah tanah-tanah terlantar. Taman Belekambang yang terlantar dijadikan taman, begitu juga tanah terlantar lainnya. Untuk keindahan kota, ia juga merapihkan kabel listrik yang semrawut .

Setelah pembenahan kota berjalan baik, sang walikota masuk ke agenda berikutnya.
Ia mencanangkan kota Solo sebagai kota Meeting, Incentive, Convention dan Exibition.
Menjadikan Solo sebagai daerah kunjungan wisata dan seminar dengan memanfaatkan hotel yang ada dan peninggalan sejarah yang tersisa.
Kunjungan orang dari luar berarti uang masuk ke kantong-kantong orang di kota Solo.

Ia menerapkan pemerintahannya sebagaimana ketika menjalankan bisnis.
Ia memulai dengan menciptakan branding kota Solo. Sang walikota mendaftarkan Solo sebagai anggota organisasi Kota-Kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006.
Pada Oktober 2008 ia berhasil mengadakan konferensi organisasi tersebut di Solo.
Pada tahun 2007 kota Solo menjadi tuan rumah Festival Music Dunia di kompleks benteng Vastenberg yang sebelumnya sempat terancam tergusur untuk dijadikan pusat perbelanjaan dan bisnis. Pada tahun 2008 FMD diadakan lagi di komplek Istana Mangkunegaraan.

Usahanya membawa hasil, Solo berkembang pesat, dan rakyat kembali memilihnya menjadi walikota untuk periode berikutnya sampai 2015.
Semoga Pak Walikota tetap konsisten dengan visinya dan berhasil mencapai impiannya membangun Solo menjadi kota sekelas kota-kota di Eropa.

Jabatan politik di Indonesia mungkin hanya bisa di pegang maksimal 10 tahun, tapi kita bisa abadi dengan karya kita ketika menjabat. Tidak memperjuangkan kepentingan partai , tapi benar2 berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Kisah JokoWi tentunya mengingatkan akan kisah pemimpin daerah di lain tempat semisal di depok, jabar dll. yang InsyaAllah akan saya angkat juga di kesempatan mendatang
Selamat atas terpilihnya Sang Walikota sebagai Tokoh Perubahan 2010, semoga semakin menginspirasi kita semua , di setiap level kepemimpinan.

Green Company ?

Posted: April 12, 2011 in spirit
Tags: , , ,

Green Company

Mungkin akhir akhir ini kita sering mendengar istilah Green Company.
Apa itu green Company ?,lalu bagaimana implementasi konsep green company dilapangannya, di tulisan berikut saya mencoba untuk bercerita tentang konsep green company, baik secara konsep ilmiah maupun dari pengalaman kerja harian.

Kita tahu bahwa dunia sekarang disibukkan dengan suatu issue yg makin lama makin penting untuk diperhatikan, yaitu global warming, pemanasan global, terjemahan sederhananya :peningkatan suhu rata2 di bumi.
Globa Warming ini disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca yg sebagian dipicu oleh penggunaan bahan bakar fosil, minyak yang berlebihan, dan penggundulan hutan yg tidak terencana dgn baik.

Penggunaan bahan bakar tersebut akan menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas buang di bumi, sehingga akan meningkatkan suhu rata2 bumi.
Akibat paling nyata yang dapat kita rasakan dari pemanasan global adalah : perubahan iklim ,naiknnya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub utara dan kutbu selatan. Dan tentunya akan mengancam keberlangsungan kehidupan.

Kondisi ini tentunya dapat kita cegah, minimal dilingkungan kita masing- masing.
Kita sebagai praktisi pekerja kantoran juga bisa ikut berkontribusi dalam upaya untuk go green/ green company tersebut.

Green company yang dimaksud disini adalah aktifitas atau segala hal dalam operasional perusahaan yang meminimalisir dampak kerusakannya terhadap lingkungan.

Tentunya upaya- upaya tersebut tidak mudah, setidaknya butuh 2 hal pokok yang harus dirubah,
Pertama pola pikir , kedua adalah budaya kerja.
Pola pikir tentang green company dibentuk dari pemahaman karyawan tentang pentingnya mewujudkan green company, hal ini dapat ditempuh dengan sosialisasi tentang green company diinternal perusahaan. Baik secara langsung maupunn tidak langsung.
Sosialisasi green company tentunya harus kontinu dan massif, sehingga program green company ini tidak anget2 tahi ayam, hanya semangat diawal tapi kemudian hilang ditelan waktu.
Selain upaya untuk merubah pola pikir karyawan tentang green company, juga harus disertai pembuatan program diinternal perusahaan tersebut untuk membantu implementasi budaya green company dikeseharian para karyawan.

Lalu bagaimanakah perusahaan mengimplementasikan konsep konsep green company dalam proses bisnisnya?

Dipaparan selanjutnya, saya akan mencoba menceritakan maupun melakukan benchmark ke beberapa company mengenai implementasi konsep green company di masing masing lingkungan bisnisnya.

Contoh yang pertama dan paling mudah , saya akan menceritakan tentang implementasi konsep green company di tempat saya bekerja, yaitu PT TELKOM Indonesia.
PT TELKOM sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia sudah mengawali implementasi green company sejak lama, semisal tahun 2003 silam, TELKOM sudah mengimplementasikan program paperless office diseluruh kantornya.

Secara garis besar impementaasi dari konsep green company dati PT TELKOM mengusung 4 langkah inisiatif: virtualisasi dan konsolidasi, efisiensi dan komputasi dan energi, pengurangan perjalanan, dan pengurangan limbah kertas.

Penjabaran dari 4 inisiatif tersebut antaralain: green building, penghematan listrik dan AC,reuse recycle dan reduce berbagai sarana kerja,
implementasi paperless office dimana semua aktifitas dinas, surat menyurat, nota dinas, absensi, slip gaji dan lain lain, semua papesless, kecuali untuk hal tertentu untuk keperluan legal.
Disamping mengurangi limbah kertas, juga akan mengurangi biaya operasional dan mempercepat proses komunikasi antar bagian di dalam TELKOM sendiri.
Bayangkan kalau semua masih menggunakan kertas, tentu sangat besar biaya dan effort yang harus dikeluarkan.
Di kegiatan kegiatan nonformal, karyawan TELKOM juga banyak yang terlibat dalam komunitas bike to work, penggiat sepeda untuk perjalanan ke kantor.

Program-program tersebut selain aman untuk lingkungan juga akan menghemat biaya operasional. Apalagi akhir-akhir ini sedang marak konsep cloudcomputing, dimana perusahaan tidak perlu lagi berinvestasi dalam hardware untuk menjalankan sistem bisnisnya.mereka cukup menyewa perusahaan penyedia cloudcomputing, dan mengoutsourcekan sebagian pengelolaan hardware/server tanpa mengeluarkan investasi hardware.
Di anak perusahaan pun tak mau kalah dalam berlomba untuk mengimplementasikan konsep green company,semisal program BTS hijau dari Telkomsel.

Sering ada salah kaprah mengasosiasikan green concern dengan biaya lebih mahal. Sejatinya, esensi dari green concern adalah penghematan. Bisa penghematan bahan bakar, penghematan bahan baku, penghematan waktu proses produksi dan beragam penghematan lainnya. Ada kalanya untuk mendapatkan penghematan diperlukan sejumlah investasi tertentu yang bisa jadi berharga mahal dan berdimensi waktu penyusutan relatif lama.Dengan menggunakan prinsip greening cost reduction, maka perusahaan sudah makin dekat menjadi green company melalui program nyata mengurangi biaya dengan memanfaatkan pendekatan hijau. Perusahaan tambang misalnya, bisa menempatkan diri di level kedua green company ini dengan mengurangi penggunaan bahan bakar yang menghasilkan emisi.

Di Telkom juga telah diluncurkan gerakan hemat energi, misal dari hal- hal sederhana , mematikan komputer dan AC ketika jam pulang kantor, karena tidak jarang komputer maupun AC tetap menyala sampai keesokan harinya.
Hal sederhana tersebut saya kira cukup efektif menekan biaya operasional dan ujung dari semua itu tentunya kesejahteraan karyawan maupun seluruh stakeholder juga akan menikmatinya.

Sahabat spirit pada posting kali ini, berisi tentang kisah inspiratif dari Pak Dahlan Iskan , Eks CEO Jawa Pos Group, yg sekarang diamanahi sbg CEO PLN, tidak banyak yg dapat saya katakan di awal, oleh karena itu selamat menyimak langsung tulisan beliau dan mengambil pelajaran2..:) di dalamnya have a nice read

Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru” enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan.

Betapa relatifnya waktu…

Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang kerja Dirut PLN.

Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin saja itu merupakan tanda awal bahwa hatinya orang lain yang sekarang saya pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat transplan yang masih harus saya minum setiap hari.

Tiba-tiba saja, ketika hari sudah ber­ubah siang, ketika rapat penting yang telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri…

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak ke mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi atau permintaan ceramah. Semua saya hindari.

Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena itu, me­nginjak bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga sambil menghirup CO2.

Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran.

Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak…

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian juga beberapa relasi PLN lainnya. Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.

Betapa relatifnya uang…

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan.

Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. Yang tidak ada pada mereka adalah muara.

Begitu banyak ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh…

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.

Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.

Betapa relatifnya tempat…

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.

Betapa relatifnya jiwa…

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di kursi direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak pernah membaca surat masuk.

Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang lebih pas menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi -sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang saja. Mengapa saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya yang tahu persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat? Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu pabrik petunjuk?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari universitas- universitas terbaik negeri ini? Bukankah karyawan PLN itu, doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman -melebihi saya? Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi pidato kelak hanya bisa minta petunjuk.

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah pengecualian.

Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.

Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya.

Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?

Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14, sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20).

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang menaikkan atau menurunkan TDL?

Betapa relatifnya kepuasan…

(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh kar­yawan PLN. Inilah cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010).

*) Dahlan Iskan, CEO PLN

http://jawapos. com/halaman/ index.php? act=detail&nid=145536
[ Sabtu, 17 Juli 2010 ]

Pekerjaan Ideal

Alhamdulillah ,rasa syukur yang tak terkira kepada Allah,
telah membimbing diri ini kedalam pangkuan aktivitas ini,
yang dengannya , saya bertemu banyak orang2 luar biasa didalamnya.

Tersebutlah, salah satu perguruan tinggi di Bandung,
yang disanalah saya berinteraksi lebih dalam dg orang2 luarbiasa itu,
tempat yg dipenuhi dengan idealisme kami, idealisme pemuda, pemuda yg beriman kpd Tuhannya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi kami, untuk berdiskusi tentang berbagai hal,salah satu hal yg senantiasa menjadi Hot Topic to discuss, adalah tentang kehidupan pasca kampus.

Biasanya kalau membahas hal ini, akan mengkerucut pada 2 topic:

1. Pekerjaan.
2. Pernikahan.

Topik pertama , tentunya bukan sesuatu yg asing buat kebanyakan mahasiswa,bahkan sebelum lulus pun banyak teman2 yg sudah nyicil bekerja, bahkan ada yang sampai lupa lulus karena keasyikan bekerja, hehe.

Topik kedua yang , menurut pengamatan saya, sesuatu yg agak kurang populer dikalangan mahasiswa pada umumnya, tapi tidak bagi kami,
karena kami bukan mahasiswa biasa..(brett) ;) ) , adalah tentang pernikahan.
betul pernikahan, tapi saya tidak akan membahasnya dalam tulisan kali ini.

Setiap berdiskusi dengan rekan-rekan seperjuangan saya dikampus dulu tentang pekerjaan terbaik yang diinginkan setelah lulus ada beberapa jawaban pokok:
1. Bekerja di sektor industri/jasa, misal di bidang telco,
2. Bekerja di sektor pendidikan: misal jadi dosen,
2. Bekerja untuk diri sendiri, alias menjadi pengusaha,

Nomer pertama dan kedua adalah sesuatu yang umum diinginkan sebagaian besar untuk ditekuni setelah lulus nanti,sedangkan yang terakhir saya sebutkan, pengusaha, adalah hal yg tidak terlalu umum,,
Hanya sedikit yang bercita cita menjadi pengusaha,
ada yang bilang terlalu beresiko boyy ;) ), maklum selain biaya sekolah kami lumayan mahal,kami juga dari keluarga yg pas pas-an, dan banyak diantara kami yg jadi tumpuan keluarga,jadi kalau memilih dari pengusaha, rasanya harus berhadapan dg berbagai hal,t ermasuk tantangan dari orang tua kami sendiri,

sedikit flasback, dulu ceritanya, kenapa saya memilih kuliah disini, adalah karena keinginan keluarga sayah, agar setelah lulus bisa bekerja di T**K**M, padahal tidak ada jaminan sama sekali, bahkan setelah beberapa lama saya kuliah, saya sadar ternyata sebagian besar alumninya malah tidak berada di T**K**M, mungkin berkat doa orangtua, saya bisa berada di T**K**M ;) )

Kembali lagi menyoal pekerjaan,
Seandainya saat itu diadakan survey, halah, kemungkinan hasilnya akan sedikit berbeda dg survey ke mahasiswa pada umumnya,
Mungkin, pada mahasiswa pada umumnya yang memilih Nomer pertama, akan jauh dominan daripada pilihan menjadi dosen , apalagi pengusaha,
tapi jika survey dilakukan kepada kami, kemungkinan hasilnya relatif merata diantara ketiga pilihan diatas, walaupun pilihan bekerja disektor industri/jas tetap dominan, tetapi tidak sedominan survey pertama.

Nah , pertanyaannya , kenapa bisa seperti itu?apakah kami mengalami penyimpangan pemikiran? (lebay)
Rekan2 pembaca yang baik hatinya,
sepertinya interaksi kami selama dikampus dengan berbagai aktivitas, keorganisasian, kepanitiaanya, itulah yg membentuk pola pikir, dan pemahaman kami tentang masa depan, Bahwa masa depan itu seperti yang difirmankan Allah:

““Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” ( Ar-Rum:64)
Masa depan sebenarnya adalah di akhirat sana, dan dunia adalah tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat yang abadi.

Alhamdulillah selama dikampus,aktivitas silih berganti hadir, tidak mengenal hari, bahkan sabtu minggu , merupakan hari tersibuk kami, disaat yg lain ,berlibur, atau bahkan mengerjakan Tugas praktikum, kami sibuk dengan agenda yg luar biasa banyaknya, pagi hari, meeting untuk persiapan mengisi , kami menyebutnya, mentoring, sampai dengan dzuhur, selepas dzuhur, beraangkat upgrading keorganisasian, sampai ashar, habis ashar menujur tempat bakti sosial, maklum disekitar kampus sering terjadi banjir,tidak selesai disitu, magrib menjelang, sudah ada agenda pertemuan rutin para aktivis, biasanya sampai tengah malam, setelah itu baru kami memikirkan tentang tugas yg harus dikumpul hari senin, (wah jadi curcol nih) :D , Jadi menurut anda bagi kami kuliah menempati prioritas keberapa? xixixi,
tetep nomor satu dong, tinggal manajemen waktunya aja diatur,( sok2an) padahal tetap aja amburadul,hihihi ;) )

Nah dari situlah, kami merenung, berfikir, kadang2 saking serius mikirnya sampai migrain (halah)
kira2 pekerjaan apakah yang ideal setelah lulus nanti,ketika kami harus terjun ke dunia yg sebenarnya, kata senior2 :D , yang mana dg pekerjaan itu, kami tetap bisa menjalankan hoby, eh , kewajiban kami, berbuat untuk umat, masyarakat, bangsa dan negara,(patriotis banget bukan? )hehe,
maka kami sampai ke sebuah kesimpulan bahwa pekerjaan yang ideal bagi kami adalah:…………………………………………………………………….dreng deng deng..;))

pekerjaan yg ideal bagi kami, seperti kata seorang idola saya, adalah pekerjaan yang membutuhkan sedikit keterlibatan waktu dan juga tenaga, tapi banyak hasilnya,
ideal bukan??
kenapa itu ideal bagi kami, karena kami bisa memanfaatkan keluaangan waktu dan tenaga untuk aktivitas yg lain, berbuat untuk masyarakat, umat, dan negara, ;) ).Oleh karena itu wajar jika hasil survey agak berbeda.
Karena dari ketiga syarat diatas paling memungkinkan ketiganya ditemukan dalam diri seorang pengusaha,
Anda bekerja sbg pengusaha, punya otoritas penuh mengelola waktu anda,apalagi kalau anda sudah punya passive income,tinggal duduk manis, uang datang kepada Anda,ideal bukan? , ndak perlu banyak waktu dan tenaga, Hasilnya berlimpah limpah. .Sungguh pekerjaan yg ideal hehehe.

Tapi bagi kita, termasuk saya yg bukan pengusaha, atau lebih tepatnya belum menjadi pengusaha, tidak usah khawatir, banyak jalan untuk berkontribusi bagi umat, masyarakat, dan negara
Kata Rasulullah:”Sebaik diantara kalian, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”, mengenai hal ini akan diulas secara dangkal dan sederhana , hehe, di episode selanjutnya.

pekerjaan yg ideal menurut saya adalah pekerjaan yang membutuhkan sedikit keterlibatan waktu dan jg tenaga, tapi banyak hasilnya,

Selamat merenung. :D

Mengasah kreatifitas kita

Gegap gempita piala dunia belum hilang dengungnya dari alam sadar kita, diseluruh pelosok, berbagai kelas usia, mulai anak2, remaja, dan tentunya orang dewasa,
Semua orang begitu tersihir dengan hajatan 4 tahunan itu.piala dunia, worldcup,hampir setiap hari menjadi trending topic, di TVC nasional, radio, surat kabar, bahkan obrolan pelanggan tetap warung kopi mbok darmo,:) disimpang jalan lampu merah, alun2 kota.

Hingar bingar piala dunia,benar benar manjur menggeser berbagai isu2 nasional yang biasanya senantiasa ada, mulai intrik intrikpolitik, kasus2 korupsi, sampai terakhir skandal selebritis tanah air.
Sehingga TVC , maupun berbagai pihak yg sedang tersudut dg isu2 tersebut tidak susah2 cari topik tandingan untuk menggeser isu,hehehe
, ya itung2 efek samping lah, orang2 seolah lupa dg kasus bank century, Lembaga2 Tinggi Negara, dll.

Saya pikir banyak pihak yang menikmati buah manis piala dunia,
Mulai dari TVC & pihak pemegang lisensi penyelenggara siaran Piala dunia,pengrajin bola, kaos, berbagai aksesoris lainnya, di berbagai negara,ya diberbagai negara,anda bisa bayangkan Vuvuzela, terompet yg memekakak telinga itu, bahkan sampai diimpor dari Cina, :) ,

bayangpun pemirsa, dahsyat kan?! heuheu

Disisi lain, Piala dunia juga banyak menghadirkan efek negatif,
Misal:perjudian meningkat, pertikaian antar pendukung seperti yg terjadi di beberapa daerah di tanah air, selepas final antara spanyol dg belanda,dan sebagainya,

Nah, tentunya efek2 diatas tergantung dari mana kita memandang suatu hal, seperti kita memandang sebuah batu, bagi tukang bangunan, sebuah batu bisa menjadi pondasi yang menguatkan bangunan, bagi penjahat batu bisa buat lempar mangga, atau buat kerusuhan.
Bahkan ditangan para kreator, batu2 itu bisa menjadi , karya yang luar biasa dahsyat,
Demikian pula Piala dunia,ditangan para kreator ini, Piala dunia tidak hanya sekedar sebuah pertandingan bola biasa, tapi sudah menjadi entertainment yang dinanti2kan.

Salah satu kreatifitas yang menurut saya cukup fenomenal misal: Disalah satu bioskop ternama di Ibukota, Ajang nonton piala dunia diadakan di dalam bioskop,Luar biasa bukan, atau setidaknya Diluar kebiasaan ?! hehe.
Kalau nobar di halaman rumah, di hotel, cafe, kantor itu mah biasa, nah kalau nonton siaran langsung di bioskop, ini yang luar biasa. Anda bisa bayangkan nonton bola di layar segedhe gaban, dan fasilitas audio yang lengkap, bahkan mungkin ada fasilitas 3 dimensi, pasti sungguh luar biasa, dan ide ini tentunya belum banyak ditangkap setiap orang :)

Kalau bahasa kerennya Blue Ocean Marketing, Menciptakan peluang baru ,yg menjadikan kompetisi menjadi irrelevant,
Ketika orang bicara harga, kita bicara kualitas,ketika orang bicara kualitas, kita sudah bicara kepuasan. Sama, seperti halnya , ketika banyak pihak mengadakan nobar di cafe,hotel, mall, maka ada saja pihak yg menawarkan ide baru, nobar dibioskop,peluang baru yang menjanjikan bukan?!.

Menurut saya, banyak ide marketing yang bisa kita ambil dari setiap kesempatan yang hadir di sekitar kita, dari hal hal sederhana sekalipun,
seperti selebritis kita yang suka memanipulasi issu, untuk mendongkrak popularitasnya,tentunya banyak hal positif yg bisa kita upayakan dari setiap kesempatan yang muncul.